Friday, October 26, 2018

[SINOPSIS] Merawat Luka

“Maaf sekali lagi, luka?” aku ditanyai temanku, nyaris tak terdengar gaungnya sama sekali. Katanya luka hanya bisa dilakukan oleh sesuatu yang bertangan, memiliki organ yang kemungkinan akan mencelakaiku dengan pisau atau apapun benda tajam lain. Oke jika mulut juga bisa melukai dengan perkataan, tapi apakah gedung bisa ngomong? Lantas mana yang kamu sebut luka?

Maka aku memberanikan diri untuk memasuki gedung itu. Baik aku maupun dia, maksudnya gedung itu, tidak saling memiliki. Mungkin ada batasan-batasan tertentu sebagai suatu hal yang tidak punya hak milik untuk tidak dimasuki terlalu dalam, misalnya hati seseorang yang kamu cintai diam-diam,
“Tapi sekali lagi ku ingatkan, lukaku tetap pada gedung tua itu. Atau bagaimana jika aku mengajakmu ke dalam juga? Bagaimana kalau kita mengelilingi gedung besar ini supaya aku bisa menceritakan tiap-tiap kenangan di setiap sudut ruangnya? Tidak lama kok, paling juga setengah hari.
Aku tidak akan memaksa, jika kamu tidak berminat ikut, kamu bisa ngopi didepan sama pak becak. Tapi kalau kamu ikut jangan kaget saat tiba-tiba aku nanti berlutut menangis di depan sebuah ruang atau tertawa lebar bergulung di rumput taman.

Bagaimana? Deal?”

Thursday, October 18, 2018

(masih) Ingin mati

Sebetulnya aku ingin sekali mengatakan bahwa aku punya alasan mengapa aku masih hidup di dunia. Klise memang, hanya karena seseorang atau beberapa orang yang ku anggap penyemangat. Aku masih cukup kuat melanjutkan hidup karena penyakitku yang tidak kronis dan tidak butuh perawatan intensif.

Bicara soal penyakit, relatif sekali jika mengatakan bahwa aku memiliki penyakit yang tidak terlalu serius atau menganggapnya tidak cukup berarti. Aku benar-benar ingin mati cepat. Aku sudah tidak sanggup menahannya dan hidup dengan penyakit ini setiap harinya. Hanya saja aku yang tak tampak begitu payah dengan badan yang masih terlihat segar bugar. Disisi lain aku sangat rapuh, sangat menderita dibuatnya. Fase dimana aku setiap hari merasa sekarat dan semakin merasa tidak ada orang lain yang lebih tidak beruntung selain aku.

Wednesday, October 17, 2018

Gadis senja

Terik matahari sore mulai meredup, aku pun membereskan peralatan lukisku yang berserak di lantai balkon rumahku. Jadwal minum obat masih beberapa jam lagi tapi nampaknya aku sedang kambuh sehingga berjalan sambil sedikit terhuyung.

Dokter mengatakan bahwa ginjal kananku nyaris tak berfungsi karena gejala gagal ginjal yang baru terdeteksi bulan lalu. Aku disarankan agar cuci darah setiap seminggu sekali. Rasanya tidak mengenakkan sekali di kala harus meminum banyak obat dari penyakit yang berbeda namun menyerang secara bersamaan. Aku harus pintar membagi waktu agar bisa mengimbangi diri dengan minum kopi demi badan yang tidak lemas pasca minum obat dari rumah sakit jiwa.

Setelah mandi air hangat, aku berbaring di kasur untuk sekadar bermain-main dengan tablet gadget milikku. Menyapa teman dunia mayaku yang tampak begitu nyata daripada sendirian menahan sakit yang entah bagaimana cara mengurangi rasanya. Nafasku mulai terengah-engah, aku memilih segera memasang masker oksigen yang ada di kamar dan menghirupnya dalam-dalam. Tanpa sadar hingga waktu minum obat lewat dan aku pun tertidur lelap.

Aku gadis pecinta senja, yang menuangkan petang pada kanvas dan kertas, atau kadang tulisan puitis yang kadang memuakkan. Aku merajut mimpiku pada langit-langit kamar. Masih senja, dan selamanya senja.

Thursday, October 11, 2018

Rein, bertahan hidup

Pagi yang dibenci pun datang, digeser siang penuh drama dan petang bercahaya. Aku tetap begini, tetap ingin mati. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan hidup, tanyaku pada senja. Senja diam, alih-alih memberikan jawaban, ia malah berbalik memunggungiku dengan senyum simpul,
"Tidakkah kamu berterima kasih pada Sang Pemberi segalanya atas semua yang kamu miliki sekarang?"

Ku jawab sudah, tapi tidak membantuku tenang. Aku terus merutuk-rutuk kepadaNya agar berhenti memberiku banyak hal yang sebetulnya tidak ku minta.

"Kurang ajar sekali kamu!" senja membalas tak kalah sengit
"Kamu tidak bisa berterima kasih atas apapun yang diberiNya."
"Kamu sia-siakan harimu dengan memohon hal yang tak pantas diminta."

Sekarang aku terdiam, tak berani menyangkal. Aku dengan hari-hariku yang malang sebab aku tak menginginkannya. Aku dan harapanku atas kematian yang tak kunjung datang menjemput gadis kecil pembenci kehidupan. Aku dan mimpi siang bolongku untuk segera mati ke kehadiratNya.

Selesai.

Tuesday, October 9, 2018

Rein, bicara pada psikolog

Aku mulai mencari-cari tulisan lamaku, aku ingat bahwa aku mulai resah sejak Juli 2018, aku menemukan bukti otentiknya. Aku pernah berada di posisi sangat rendah yakni saat aku diperbudak oleh perasaanku sendiri, oleh mood. Singkatnya aku mengalami gangguan mood yang tiba-tiba meledak karena hal menyenangkan yang tidak bisa ku kontrol adanya. Mungkin aku menerka-nerka bahwa aku sedang ada di fase manik atas penyakit bipolar yang bisa saja menyerangku.

Lalu episode berikutnya ada pada aku masuk rumah sakit jiwa. Aku jatuh tersungkur dengan keadaan kejiwaanku yang serius mengalami depresi berat. Lalu hari-hari dimana aku membaik dan kembali memburuk setelahnya. Aku berinisiatif agar bertemu dengan psikolog untuk menceritakan keadaanku.

Setelah sebulan lebih akhirnya aku mendapat jadwal 'berbicara' dengan psikolog. Dua jam persis lamanya aku menceritakan keadaanku mulai saat resah sampai saat sekarang menghadap beliau. Kemudian beliau berusaha mengertikan keadaanku dengan mencerna ceritaku dan memberi saran. Dan saat berakhir tak lupa psikolog paruh baya itu memberiku pelukan sebagai hadiah ulangtahun yang terlewat beberapa bulan. Kami berpelukan sebentar sambil tertawa. Menyenangkan sekali.

Rein, setelah sakit

Hari-hari berikutnya adalah hari yang cukup tenang. Setelah pulang dari rumah sakit aku merasa lebih baik dan lebih stabil. Namun sayang ketenangan yang terasa hanya bertahan barang sepekan saja. Aku kembali drop dan mulai sakit.

Hari-hari yang berat. Terlewati dengan susah payah setiap harinya olehku yang semakin tidak berdaya dengan tidak adanya kegiatan yang bisa dilakukan. Setiap hari hanya tidur saja acaraku, tidak ada yang lain. Paling menulis, satu-satunya hiburan yang bisa sekaligus menjadi obat penawar kesepian.

Tidak ada hari yang terlewati tanpa masalah. Hari pertama setelah teronggok tak berdaya di rumah saja aku mengamuk tak jelas, hingga mamaku menangis saking tak kuatnya menghadapi aku. Aku dijemput oleh omku dan diajak berobat ke dukun yang meyakini bahwa aku sedang kerasukan makhluk halus. Ya, aku sudah biasa dengan kebiasaan keluargaku yang menganggap hal-hal yang ku lakukan ada kaitannya dengan barang klenik yang bersifat misteri.

Hari berikutnya giliranku yang mogok makan. Saat dirumah tidak ada makanan, aku memilih makan makanan basi yang kemudian dimarahi mamaku. Entah apa yang ada di pikiranku sampai begitu malas membuat kudapan sendiri hingga memakan sisa makanan kemarin yang masih ada.

Hari-hari selanjutnya aku takluk pada obatku. Obat-obatan yang diberi dari rumah sakit memang keterlaluan efek sampingnya. Membuat selalu lemas dan mengantuk. Aku pun seharian hanya terbaring di kamar.

Rein, berulang tahun

Hari ini tampak menyenangkan, dokter mengatakan aku keadaanku membaik. Tapi dokter juga menyarankan agar aku dipindahkan ke ruang VIP agar lebih tenang dan bisa lebih cepat pulih. Aku pun senang karena pindah kamar berarti tidak perlu makan bersama banyak orang lain, mengikuti kegiatan wajib dan lain-lain. Maka hari itu berangsur cepat berlalu, ku sempatkan untuk mengajari teman kamarku beribadah kembali.

Malam harinya sekitar pukul tujuh aku dijemput ambulan yang membawaku ke ruangan baru. Aku semangat sekali, ku ucapkan terimakasih pada perawat yang sudah merawatku selama di ruang lama. Setelah sampai aku disambut perawat dan diantar menuju kamar baru dengan pasien aku saja. Ya, VIP berarti very important person, berarti hanya aku yang menghuni kamarnya. Ada kulkas kecil dan televisi yang bebas ku pergunakan selama disana, aku senang, aku merasa privasiku dihargai daripada sebelumnya.

Hari ulang tahunku semakin dekat, aku mengatakan pada keluarga bahwa aku ingin sekali merayakannya bersama teman-temanku. Benar saja, tujuh orang temanku datang membawakanku kue tart dan hadiah, rasanya menyenangkan sekali bisa merayakan pergantian tahun kelahiran dengan orang yang ku inginkan. Makan kue yang ku bagikan pada perawat pun juga tak luput ku lewatkan dari perayaan.

Monday, October 8, 2018

Rein, hari-hari di rumah sakit

Sedikit berbasa-basi dengan nama, Rein berarti hujan. Padahal aku tak suka air, aku sangat tidak menyukai mandi seperti pagi ini ketika terpaksa aku harus mandi agar tidak dimarahi petugas rumah sakit. Mendadak aku rindu mamaku, yg biasa menjerangkanku air hangat untuk mandi, tidak seperti sekarang dengan air yang dingin dan jam yang masih pagi.

Setelah mandi aku mengikuti kegiatan kelompok yang diadakan para perawat disana yaitu senam ringan. Aku cukup antusias menggerakkan badan sampai acara selesai. Siang itu ku habiskan waktu dengan mengikuti serangkaian kegiatan pemulihan yang ada, berdzikir, berkaraoke bersama pasien lain. Kemudian tidur siang hingga sore hari menjelang seperti hari-hari sebelumnya.

Sore harinya aku duduk di teras kamar dan melihat ada salah satu pasien yang dijenguk oleh kedua orang tuanya. Mendadak aku menangis, tangisku pecah persis saat aku pertama kali makan bersama di ruang makan dengan pasien lain. Aku ingat mamaku, aku ingin mamaku saat ini. Kekanakan sekali tapi memang beginilah aku. Aku menangis sesenggukan sampai dua orang datang mendatangiku, ternyata kedua bibiku yang menjengukku sore itu.

Setelah puas ngobrol, aku minta dibawakan sisir rambut dan kitab suci pada kedua bibiku untuk besok jika berkunjung lagi.

Maaf Ibu

Apalagi yang perlu diperjuangkan, di kala diri tak ingin beranjak Jangankan untuk sembuh, untuk menjadi lebih bermanfaat saja enggan Ibu, ...