Friday, October 26, 2018

[SINOPSIS] Merawat Luka

“Maaf sekali lagi, luka?” aku ditanyai temanku, nyaris tak terdengar gaungnya sama sekali. Katanya luka hanya bisa dilakukan oleh sesuatu yang bertangan, memiliki organ yang kemungkinan akan mencelakaiku dengan pisau atau apapun benda tajam lain. Oke jika mulut juga bisa melukai dengan perkataan, tapi apakah gedung bisa ngomong? Lantas mana yang kamu sebut luka?

Maka aku memberanikan diri untuk memasuki gedung itu. Baik aku maupun dia, maksudnya gedung itu, tidak saling memiliki. Mungkin ada batasan-batasan tertentu sebagai suatu hal yang tidak punya hak milik untuk tidak dimasuki terlalu dalam, misalnya hati seseorang yang kamu cintai diam-diam,
“Tapi sekali lagi ku ingatkan, lukaku tetap pada gedung tua itu. Atau bagaimana jika aku mengajakmu ke dalam juga? Bagaimana kalau kita mengelilingi gedung besar ini supaya aku bisa menceritakan tiap-tiap kenangan di setiap sudut ruangnya? Tidak lama kok, paling juga setengah hari.
Aku tidak akan memaksa, jika kamu tidak berminat ikut, kamu bisa ngopi didepan sama pak becak. Tapi kalau kamu ikut jangan kaget saat tiba-tiba aku nanti berlutut menangis di depan sebuah ruang atau tertawa lebar bergulung di rumput taman.

Bagaimana? Deal?”

No comments:

Post a Comment

Maaf Ibu

Apalagi yang perlu diperjuangkan, di kala diri tak ingin beranjak Jangankan untuk sembuh, untuk menjadi lebih bermanfaat saja enggan Ibu, ...