“Maaf sekali lagi, luka?” aku ditanyai temanku, nyaris tak terdengar gaungnya sama sekali. Katanya luka hanya bisa dilakukan oleh sesuatu yang bertangan, memiliki organ yang kemungkinan akan mencelakaiku dengan pisau atau apapun benda tajam lain. Oke jika mulut juga bisa melukai dengan perkataan, tapi apakah gedung bisa ngomong? Lantas mana yang kamu sebut luka?
Maka
aku memberanikan diri untuk memasuki gedung itu. Baik aku maupun dia,
maksudnya gedung itu, tidak saling memiliki. Mungkin ada batasan-batasan
tertentu sebagai suatu hal yang tidak punya hak milik untuk tidak
dimasuki terlalu dalam, misalnya hati seseorang yang kamu cintai
diam-diam,
“Tapi
sekali lagi ku ingatkan, lukaku tetap pada gedung tua itu. Atau
bagaimana jika aku mengajakmu ke dalam juga? Bagaimana kalau kita
mengelilingi gedung besar ini supaya aku bisa menceritakan tiap-tiap
kenangan di setiap sudut ruangnya? Tidak lama kok, paling juga setengah
hari.
Aku
tidak akan memaksa, jika kamu tidak berminat ikut, kamu bisa ngopi
didepan sama pak becak. Tapi kalau kamu ikut jangan kaget saat tiba-tiba
aku nanti berlutut menangis di depan sebuah ruang atau tertawa lebar
bergulung di rumput taman.
Bagaimana? Deal?”
No comments:
Post a Comment