Monday, September 17, 2018

Rein, perkenalan

Aku Rein, senang sekali bisa menulis lagi di kanal yang sudah lama terendap;
sepersekian lama sama dengan pikiranku yang sudah lama membusuk bersama tulisan-tulisan yang tidak ku terbitkan. Masih lengkap dengan kepala yang sama, namun rasa yang sudah jauh berbeda, tulisan ini ada dan sebagai perayaan bahwa sang pemilik badan masih eksis di dunia yang semakin lama semakin menjemukan, yang memaksanya untuk kembali memuntahkan pikiran demi pikiran berupa tulisan. Ah hidup memang sudah banyak mengajariku hal yang bisa diutarakan maupun tidak, selalu seperti itu.

Sejak subuh tadi mataku sudah memindai gerak diluar ruang rumah sakit ini. Letaknya yang jadi satu dengan dapur karyawan membuatku tidak lepas mengabsen hilir mudik penghuni kamar inap wanita kelas menengah poli mitra. Aku bangun pukul lima kurang lima puluh menit, bergegas mengambil air wudhu untuk sembahyang, ku tepuk pelan bahuku, aku siap menjalani hari ini.

Benar saja, hari ini dimulai dengan duduk antri diukur tekanan darah dan nadiku. Tak lama kemudian sarapan datang, aku harus mulai terbiasa makan di ruang makan bersama belasan pasien lain yang juga menyantap makanan setelah di hari pertama aku menangis meraung-raung, tidak menyangka jika dirawat inap di rumah sakit jiwa.

Ah iya, aku disini sakit. Katanya sakit psikis, sakit yang tidak terlihat lukanya tapi jelas obat-obatannya. Konon aku dianggap lebih baik daripada sakit ginjal atau jantung yang perawatannya jelas lebih nyata. Frontalnya disebut sakit jiwa, lantas aku bertanya-tanya dalam hati,
"apakah jiwa itu, seberapa sulit dikendalikannya sampai aku harus ada disini?"

Beberapa hari lagi aku berulang tahun ke dua puluh satu tahun, aku membayangkan pesta sederhana dihadiri oleh teman-teman terdekatku di sebuah tempat makan. Ah iya aku sedang sakit, aku tidak mungkin merayakannya dengan gegap gempita iringan ucapan selamat ulang tahun. Lalu aku menghabiskan hari ini yang tenang dengan tidur siang dan mengobrol bersama teman sekamarku.

Ia, takut hidup

"Aku disini, hai. Aku benar-benar masih disini." ucapnya lemah pada langit-langit kamar suatu ruang dalam rumah sakit.

Ku kira aku sudah kehilanganmu, ratap sebuah pagi yang kembali datang dengan segalanya tentang semesta.

"Aku hidup. Aku masih hidup." lonjaknya yang kini mulai terbangun dari tidur

Jangan hilang arang, aku masih disini, masih menemanimu, pagi mendikte.

"Aku hidup, ha i de u pe, hidup." entah ia bersorak atau mengeram, hampir tidak bisa dibedakan.

Baginya hidup adalah kutukan. Kali ini episode kisahnya merentang diatas ranjang rumah sakit jiwa kota. Masih segar dalam ingatan, ia meminta pada Tuhan setiap hari agar besok meninggal dunia saja. Didoakannya dalam-dalam keinginan akan mati agar besok tak lagi ia temui pagi. Pagi yang menjelma siang, siang dan kehidupan yang selalu ingin ia hindari.

Dan ia yang masih berselimut dibalik semua rasa takutnya terhadap hidup.

Test

Just hello, hi!

Maaf Ibu

Apalagi yang perlu diperjuangkan, di kala diri tak ingin beranjak Jangankan untuk sembuh, untuk menjadi lebih bermanfaat saja enggan Ibu, ...