Pikirannya hanya satu, bermain-main, ia tak perduli terhadap apapun pekerjaan rumah. Ia tak perduli ibunya mencuci baju, atau menyetrika, ia juga tak perduli keadaan rumah sedang bersih atau kotor.
Kalau tidak main ia pasti tidur, tidur saja mengistirahatkan otaknya yang tak imbang zat kimianya, baca depresi. Tak ada yang bisa mengerti keadaannya, tak satupun bisa karena dia sudah dicap sebagai pemalas kelas berat yang juga tukang tidur. Tak ada satupun yang mengerti itu.
Ia hanya memikirkan pertemuannya dengan segelintir orang yang ia punya dan bisa membuatnya sedikit tersenyum. Duduk berjam-jam di pusat perbelanjaan atau sebuah hotel untuk membicarakan sesuatu ngalor ngidul. Segelintir orang saja, beberapa orang yang sayangnya hanya perduli saat ia tak lagi sempat mengharapkan kembali karena terlalu lama membayangkan akan segera dibersamai.
Ia dan lamunan sehari-harinya. Selalu saja begitu. Kasihan sekali bukan?