Pagi yang dibenci pun datang, digeser siang penuh drama dan petang bercahaya. Aku tetap begini, tetap ingin mati. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan hidup, tanyaku pada senja. Senja diam, alih-alih memberikan jawaban, ia malah berbalik memunggungiku dengan senyum simpul,
"Tidakkah kamu berterima kasih pada Sang Pemberi segalanya atas semua yang kamu miliki sekarang?"
Ku jawab sudah, tapi tidak membantuku tenang. Aku terus merutuk-rutuk kepadaNya agar berhenti memberiku banyak hal yang sebetulnya tidak ku minta.
"Kurang ajar sekali kamu!" senja membalas tak kalah sengit
"Kamu tidak bisa berterima kasih atas apapun yang diberiNya."
"Kamu sia-siakan harimu dengan memohon hal yang tak pantas diminta."
Sekarang aku terdiam, tak berani menyangkal. Aku dengan hari-hariku yang malang sebab aku tak menginginkannya. Aku dan harapanku atas kematian yang tak kunjung datang menjemput gadis kecil pembenci kehidupan. Aku dan mimpi siang bolongku untuk segera mati ke kehadiratNya.
Selesai.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Maaf Ibu
Apalagi yang perlu diperjuangkan, di kala diri tak ingin beranjak Jangankan untuk sembuh, untuk menjadi lebih bermanfaat saja enggan Ibu, ...
-
Apalagi yang perlu diperjuangkan, di kala diri tak ingin beranjak Jangankan untuk sembuh, untuk menjadi lebih bermanfaat saja enggan Ibu, ...
-
Pagi yang dibenci pun datang, digeser siang penuh drama dan petang bercahaya. Aku tetap begini, tetap ingin mati. Bagaimana mungkin aku bisa...
-
Terik matahari sore mulai meredup, aku pun membereskan peralatan lukisku yang berserak di lantai balkon rumahku. Jadwal minum obat masih beb...
No comments:
Post a Comment