Terik matahari sore mulai meredup, aku pun membereskan peralatan lukisku yang berserak di lantai balkon rumahku. Jadwal minum obat masih beberapa jam lagi tapi nampaknya aku sedang kambuh sehingga berjalan sambil sedikit terhuyung.
Dokter mengatakan bahwa ginjal kananku nyaris tak berfungsi karena gejala gagal ginjal yang baru terdeteksi bulan lalu. Aku disarankan agar cuci darah setiap seminggu sekali. Rasanya tidak mengenakkan sekali di kala harus meminum banyak obat dari penyakit yang berbeda namun menyerang secara bersamaan. Aku harus pintar membagi waktu agar bisa mengimbangi diri dengan minum kopi demi badan yang tidak lemas pasca minum obat dari rumah sakit jiwa.
Setelah mandi air hangat, aku berbaring di kasur untuk sekadar bermain-main dengan tablet gadget milikku. Menyapa teman dunia mayaku yang tampak begitu nyata daripada sendirian menahan sakit yang entah bagaimana cara mengurangi rasanya. Nafasku mulai terengah-engah, aku memilih segera memasang masker oksigen yang ada di kamar dan menghirupnya dalam-dalam. Tanpa sadar hingga waktu minum obat lewat dan aku pun tertidur lelap.
Aku gadis pecinta senja, yang menuangkan petang pada kanvas dan kertas, atau kadang tulisan puitis yang kadang memuakkan. Aku merajut mimpiku pada langit-langit kamar. Masih senja, dan selamanya senja.
Wednesday, October 17, 2018
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Maaf Ibu
Apalagi yang perlu diperjuangkan, di kala diri tak ingin beranjak Jangankan untuk sembuh, untuk menjadi lebih bermanfaat saja enggan Ibu, ...
-
Apalagi yang perlu diperjuangkan, di kala diri tak ingin beranjak Jangankan untuk sembuh, untuk menjadi lebih bermanfaat saja enggan Ibu, ...
-
Pagi yang dibenci pun datang, digeser siang penuh drama dan petang bercahaya. Aku tetap begini, tetap ingin mati. Bagaimana mungkin aku bisa...
-
Terik matahari sore mulai meredup, aku pun membereskan peralatan lukisku yang berserak di lantai balkon rumahku. Jadwal minum obat masih beb...
No comments:
Post a Comment