Monday, September 17, 2018

Ia, takut hidup

"Aku disini, hai. Aku benar-benar masih disini." ucapnya lemah pada langit-langit kamar suatu ruang dalam rumah sakit.

Ku kira aku sudah kehilanganmu, ratap sebuah pagi yang kembali datang dengan segalanya tentang semesta.

"Aku hidup. Aku masih hidup." lonjaknya yang kini mulai terbangun dari tidur

Jangan hilang arang, aku masih disini, masih menemanimu, pagi mendikte.

"Aku hidup, ha i de u pe, hidup." entah ia bersorak atau mengeram, hampir tidak bisa dibedakan.

Baginya hidup adalah kutukan. Kali ini episode kisahnya merentang diatas ranjang rumah sakit jiwa kota. Masih segar dalam ingatan, ia meminta pada Tuhan setiap hari agar besok meninggal dunia saja. Didoakannya dalam-dalam keinginan akan mati agar besok tak lagi ia temui pagi. Pagi yang menjelma siang, siang dan kehidupan yang selalu ingin ia hindari.

Dan ia yang masih berselimut dibalik semua rasa takutnya terhadap hidup.

No comments:

Post a Comment

Maaf Ibu

Apalagi yang perlu diperjuangkan, di kala diri tak ingin beranjak Jangankan untuk sembuh, untuk menjadi lebih bermanfaat saja enggan Ibu, ...