"Aku disini, hai. Aku benar-benar masih disini." ucapnya lemah pada langit-langit kamar suatu ruang dalam rumah sakit.
Ku kira aku sudah kehilanganmu, ratap sebuah pagi yang kembali datang dengan segalanya tentang semesta.
"Aku hidup. Aku masih hidup." lonjaknya yang kini mulai terbangun dari tidur
Jangan hilang arang, aku masih disini, masih menemanimu, pagi mendikte.
"Aku hidup, ha i de u pe, hidup." entah ia bersorak atau mengeram, hampir tidak bisa dibedakan.
Baginya hidup adalah kutukan. Kali ini episode kisahnya merentang diatas ranjang rumah sakit jiwa kota. Masih segar dalam ingatan, ia meminta pada Tuhan setiap hari agar besok meninggal dunia saja. Didoakannya dalam-dalam keinginan akan mati agar besok tak lagi ia temui pagi. Pagi yang menjelma siang, siang dan kehidupan yang selalu ingin ia hindari.
Dan ia yang masih berselimut dibalik semua rasa takutnya terhadap hidup.
Monday, September 17, 2018
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Maaf Ibu
Apalagi yang perlu diperjuangkan, di kala diri tak ingin beranjak Jangankan untuk sembuh, untuk menjadi lebih bermanfaat saja enggan Ibu, ...
-
Apalagi yang perlu diperjuangkan, di kala diri tak ingin beranjak Jangankan untuk sembuh, untuk menjadi lebih bermanfaat saja enggan Ibu, ...
-
Pagi yang dibenci pun datang, digeser siang penuh drama dan petang bercahaya. Aku tetap begini, tetap ingin mati. Bagaimana mungkin aku bisa...
-
Terik matahari sore mulai meredup, aku pun membereskan peralatan lukisku yang berserak di lantai balkon rumahku. Jadwal minum obat masih beb...
No comments:
Post a Comment